Rosanti Ngili Berita 06 Maret 2018 16:14 dibaca 356x

 

Kondisi jalan dan jembatan yang rusak parah menuju wilayah Distrik Naukenjerai tidak membuat jera para panggali dan penampung pasir liar. Seolah – olah tuli dari himbauan dan peringatan sehingga tetap melakukan aksinya.

Kepala Distrik Naukenjerai, Heri Purnomo, S. STP menggungkapkan, hingga sekarang masih saja terjadi penggalian pasir liar di Kampung Kuler, Distrik Naukenjerai. Sedangkan 4 kampung sekitar sudah tidak terjadi. Padahal pemerintah Kabuapten Merauke melalui instruksi bupati sudah menegaskan pemeberhentian gali pasir liar jika masyarakat ingin dibangunkan jallan representatif

“Kondisi jalan rusak berat tapi tetap saja panggilan pasri dilakukan. Makanya kita sangat berharap kepada instansi yang punya kewenangan penindakan tegas,”harapnya. Senin(5/3)

Menurut Heri, pihak distrik sudah bebrupaya beberapa kali melakukan musyawarah dan kegiatan langsung ke masyarakat untuk memberi pahaman sekaligus kesadaran untuk berhenti menggali pasir liar. Karena dampaknya bukan hanya menyebabkan jalan dan jembatan rusak melainkan dapat terjadi abrasi pantai.

Sesuai tupoksi distrik hanya memberi pemahaman dan kesadaran masyarakat sehingga diharapkan kerjasama instansi berwenang. Diakuinya, kondisi jalan Distrik Naukenjerai sangat memperihatinkan dan cukup menghambat perekonomian maupun pembangunan diwilayah setempat. “Rusak dari Bokem sampai Ndalir (Distrik Merauke). Kalau Naukenjerai dari Tomer sampai Kondo. Walaupun pusat penggalian pasir di Kuler tapi berdampak kerusakan di jalan Naukenjerai,” ungkap Heri.

Tak hanya di masyarakat, distrik juga berkoordinasi dengan instansi PU dan melalui musrenbang tetap menyampaikan usulan perbaikan jalan di wilahnya. Karena masyarakat memang menginginkan pembangunan jalan di Naukenjerai segera diwujudkan. Yang mana menjadi tugas pemerintah propinsi. (hda)

 

Sumber        : PSP

KOMENTAR

    belum ada komentar

Silahkan berkomentar secara bertanggungjawab